Siaran keroyokan SW tadi malam merupakan satu dari sekian rentetan peristiwa yang kurang lazim dan sedikit tidak dapat diterima nalar. Bermula dari keluhan Anggrek, sebut saja begitu, yang tidak doyan makan dan disambut dengan ajakan Kadal-1 untuk makan diluar, akhirnya diputuskan untuk memasak ayam mbakar wong solo bumbu kare à la banget.

Dalam waktu 100 shutter speed (1/100 s) sebelum Kadal-1 meninggalkan istana gadingnya, datanglah Kadal-2 merangsek dari sela-sela daun pintu yang menganga lebar.
« Jim, gimana program kerja ? » Kadal-2 bertanya dengan kasar.
« Naon kituh ? » Kadal-1 menyambut dengan kurang sopan pula sambil mencengkeram erat kerah baju Kadal-2
« Mu ke tempat Naries? »
« Enggak »
« Iya lah, pasti lah, iya lah, iya kan, iya dong, iya kan, kan kan dong ! »
« Enggak »
« Jangan bo’ong »

« Psst, Anggrek ! Ntar pembaca jadi tau »
« Oh, oke ! Pssst. »
« Mana Tripot ? Bang Obed minta nih. Dia mau ke Utrecht, katanya. »
« Ngapain ? »
« Nganter pasir dua rit! Mana tripot, cepet !! »
« Tanya tuh sama si Melati, yang beli ipot setiap selasa wage ! »
« Eh, siapa itu Melati ? »
« Sebut saja begitu ! »
BUZZ
Anggrek : Jadi dateng tak? Bawa ayam curian yang uda dicabuti bulunya, sama ulekan dan terasi yak !
Kadal-1 : K, gw brangkat skrg
Kedua spesies kadal yang berbeda varietas tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi ke selatan kota, meski tidak bersama-sama. Kesenjangan sosial yang sangat kentara tampak jelas ketika Kadal-2 harus mengayuh sepeda bututnya sementara Kadal-1 cukup duduk sambil menyilangkan kaki di belakang pak Sopir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya.

Kadal-1 ternyata hanya meracau, mengindikasikan kalau dia dari kalangan berada, padahal tadi cuman naik mikrolet M-16 Kampung Melayu-Pasar Minggu yang ditengarai banyak copetnya. Turun dari halte, ternyata Kadal-2 sudah menunggu dengan tampang oedipus complex yang tidak ada harapan untuk dapat disembuhkan.
« Eh, ketemu lagih. Kaya’e kita jodoh deh ! » Kadal-1 menyapa Kadal-2.
« Ih, jijay deh, kayak gak ada cowok ganteng laen, » sambit ketus Kadal-2 sambil menyibakkan rambut sebahunya.
Kadal-2 akhirnya hilang dibalik gelapnya malam yang sudah semakin pekat, sementara Kadal-1 berlari-lari anjing sambil mendendangkan lagu ‘Lelaki dan Rembulan’ yang katanya menjadi mars perjuangan ketika masih aktif di KNIL.

Kadal-2 yang berdedikasi tinggi dan merasa harus mengungkap ketidakjelasan nasip tripot yang dipinjamnya akhirnya menghubungi Melati yang sedang mandi sambil mendendangkan lagu ‘Di sini ku menunggu, di sana kau bercumbu.
« Brik, brik, Rani, eh salah, Melati, brik, brik »
« Eh, rojer, sapa nih, ganti »
Groooook
« Rojer, rojer, ini Kadal-2, bukan Rojer Danuarta. Aku kesitu yah, mu liat koleksi Ipot-mu yang katanya uda dua dus. »
« Eh, bentar lagi yah. Aduh kesetrum. »
Kadal-1 akhirnya sampai ke tempat yang dituju. Anggrek tampak cantik, meski terlihat kuyu di balik wajah pucat kelelahan, hasil deraan PR demi PR yang seolah tiada habisnya. Tak berapa lama, tampak Melati sedang memegang tali jemuran yang ujung lainnya melilit kencang di leher Kadal-2, sementara tangan lainnya memegang erat sebilah sabuk kulit berlumuran darah.

« Eh, melati, emansipasi itu sejak jaman RA Kartini, tapi sekarang perikehewanan juga sangat dijunjung tinggi. Apa jadinya jika spesies kadal punah, bisa-bisa terjadi ketidakstabilan ekosistem yang berakibat pada suksesi alam berkepanjangan ? »
« Eh, Kadal-2, lu siaran yak, sekarang ? »
« He eh » jawab Kadal-2 sambil membetulkan posisi duduknya, memperlihatkan bilur-bilur di punggungnya.
« Temanya paan ? »

« Gatau, gabisa mikir nih, tadi kepala gua dibenturin ke tembok beberapa kali, jadi gagar otak »
« Gimana kalo ‘Menentukan Waktu Optimal Pengadukan Kopi Berdasarkan Potensial Kimia dengan Pendekatan Maxwell-Stefan? »
« Gak ada yang lebih waras ? »
« Amandemen UUD 45, dampak dan implementasinya ? ato pengaruh penggundulan hutan terhadap impotensi ? »
« Nha ituh ! Iyah, alam… »
« Alam ? Peti Pera ? »

Akhirnya secara kuorum ditentukan bahwa tema siaran malam itu adalah « alam » alias natuur. Untuk mempertegas nafas tema pada siaran saat itu, lagu-lagunya pun disesuaikan dengan teman, seperti lagu pembukaan « Lelaki Buaya Darat », dilanjutkan dengan lagu-lagu seperti Kupu-Kupu yang Lucu, Ampun DJ, dan juga diikuti resensi film « Batman and Alas Roban ».
Sementara itu, di tempat lain, ayam panggang dan pecel brokoli telah siap disantap, diikuti dengan hadirnya kopi Lampung yang katanya mengandung kafein dengan kadar yang dapat memberi efek anastetik sekaligus dopamine reuptake inhibitor.
Siaran diperparah dengan kehadiran dukun jadi-jadian dari tanah India yang memiliki suara seperti pejabat bernama Suhu MahariJaya. Kata demi kata yang terluncur dari dukun yang juga berprofesi sebagai pemilik agen Travel Jakarta-Bandung ini ditengarai menyebabkan Revolusi Perancis di tahun 1788-1789. Siaran ditutup dengan diskusi hangat mengenai mistik di kaki gunung Srandil dan penunggu kawah Gunung Arjuna.

Di akhir siaran tercatat bahwa Swara Wageningen malam itu didengarkan oleh 4.7 juta pendengar dari 146 negara di dunia dan tentu saja dibanjiri dengan iklan-iklan seperti Insana, Indomi rasa ayam bangsat, dan rokok Djamur Super.
Tags:
2 Comments
Add a Comment
Started by Swara Wageningen in Kontak Jodoh Jan. 16, 2008.
© 2009 Created by Swara Wageningen on Ning. Create Your Own Social Network
You need to be a member of Kampung Wageningen to add comments!
Join this social network